IAHNTPnews,- Umat Hindu Kabupaten Barito Utara Melaksanakan Dharma Shanti Nyepi Tahun Baru Saka 1945 di Gedung Tandak Banama Tingang Kompleks Balai Basarah Hindu Kaharingan Muara Teweh pada hari Rabu, 10/05/2023.
Hadir dalam kegiatan Dharma Shanti Bupati Barito Utara yang diwakili oleh Asisten 1 Eveready Noor, Kabid Bimas Hindu Kantor Wilayah kementerian Agama Provinsi Kalteng Dra, Sisto Hartati, M.Si Ketua MB-AHK Pusat Palangka Raya Drs. Walter S. Penyang, Rektor IAHN TP Palangka Raya dalam hal ini diwakili oleh Dr. Suryanto, S.Pd.,M.Pd selaku Kepala Pusat Penelitian dan Publikasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta undangan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut Dr. Suryanto, S.Pd.,M.Pd yang merupakan seorang Dosen Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu memberikan Dharma Wacana dengan tema “Memaknai Dharma Shanti dan Sad-Dharma” yang sekaligus melaksanakan sosialisasi Kampus serta sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru tahun akademik 2023-2024.
Suryanto mengatakan DHARMA SHANTI adalah salah satu dari SAD-DHARMA, yaitu Enam Metode dalam Proses Pengajaran dan Penyebarluasan ajaran Dharma dalam agama Hindu. Keenam pendekatan itu terdiri dari (1) Dharma Wacana – identik dengan khotbah atau ceramah keagamaan; (2) Dharma Thula – melakukan diskusi, dialog atau rembug membahas tentang ajaran-ajaran kitab suci Weda; (3) Dharma Gita – penggunaan seni suara untuk mengagungkan Tuhan, misalnya menyenandungkan ayat-ayat suci Weda lewat lagu-lagu kidung atau pujian, biasanya diiringi musik atau gamelan.
Lalu, ada (4) Dharma Sadhana – pelaksanaan disiplin spiritual secara pribadi, atau taat melaksanakan peribadatan; (5) Dharma Yatra – melaksanakan ziarah atau kunjungan ke tempat-tempat suci – yang biasanya dikenal dengan istilah Tirtha Yatra, dan (6) Dharma Shanti – adalah Simakrama – sejenis halal-bihalal usai Idul Fitri dalam Islam, atau mirip Natal Bersama oleh umat Kristen. Dharma Shanti dilaksanakan sebagai bagian dari Perayaan Hari Raya Nyepi Menyambut Tahun Baru Saka.
Suryanto juga menambahkan bahwa Dharma Shanti menjadi momen yang mempertemukan sesama umat Hindu secara internal. Secara eksternal, dharma shanti juga menjadi ajang dan kesempatan untuk menghadirkan dan mengenal para pejabat dan perangkat daerah serta tokoh umat lainnya, yang diundang hadir dalam perayaan Dharma Shanti.
“Jadi, dalam acara Dharma Shanti, terjadilah perpaduan dari keenam metode Sad-Dharma itu. Setidaknya, ada Dharmawacana, atau dikalangan bahasa Dayak Ngaju disebut “Pandehen”, ada pembacaan kitab suci Panaturan, atau Bhagavad-gita dan Sarasamuscaya dan melantunkan kidung pujian Kandayu, atau lagu Tandak Intan Kaharingan, serta aneka tampilan tari-tarian sebagai ekpresi Dharma-gita”, tuturnya.
“Semoga, momen-momen perayaan Dharma Shanti seperti ini, dapat meneguhkan keimanan, meningkatkan rasa bhakti, dan tentu saja, memperkuat identitas sebagai penganut ajaran Sanatana”, tutupnya. //a.s//