MENYALANews,- Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya kembali memperluas jejaring akademik internasional melalui partisipasi dosen dalam kegiatan Research and Academic Cooperation Development Project for Network Institution 2026 yang diselenggarakan oleh Mahamakut Buddhist University Isan Campus (MBU ISC), Thailand.
Dalam kegiatan tersebut, IAHN Tampung Penyang Palangka Raya mengirimkan dua orang dosen sebagai delegasi, yaitu Dr. Ni Putu Eka Merliana, S.T., M.T. dan Kunti Ayu Vedanti, S.Fil.H., M.Ag. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 4–10 Maret 2026 dan diikuti oleh akademisi dari berbagai perguruan tinggi di kawasan Asia.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan akademik tersebut, dosen IAHN Tampung Penyang Palangka Raya mempresentasikan rancangan kolaborasi riset pada tanggal 5–6 Maret 2026 di Kampus Mahamakut Buddhist University Isan Campus (MBUIC), Khon Kaen, Thailand. Pemaparan presentasi ini dihadiri oleh Wakil Rektor MBUIC, Phrasutheevajiradhamma, serta perwakilan dari berbagai perguruan tinggi internasional, di antaranya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, Hue University (Vietnam), Buddhist University of Sri Lanka, Jihuashan Buddhist College (China), Vietnam Buddhist University, Souphanouvong University (Laos), dan VNU University (Vietnam).
Dalam forum akademik tersebut, delegasi dari IAHN Tampung Penyang mempresentasikan rancangan penelitian berjudul “Sacred Rice and Sustainability: Ecological Wisdom in Kaharingan Basarah Ritual.” Penelitian ini mengkaji makna simbolik beras dalam ritual Basarah pada tradisi Kaharingan serta hubungannya dengan nilai-nilai kearifan ekologis dan keberlanjutan lingkungan.
Berdasarkan materi penelitian yang dipresentasikan, kajian ini dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan lingkungan global seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta penggunaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Penelitian ini menekankan bahwa selain pendekatan sains dan teknologi, perspektif budaya dan agama juga memiliki peran penting dalam membangun etika lingkungan yang berkelanjutan.
Riset ini menyoroti bahwa dalam ritual Basarah pada tradisi Kaharingan, beras memiliki makna simbolik yang penting sebagai media spiritual yang merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, dan dimensi ketuhanan. Nilai-nilai ekologis tersebut tercermin dalam praktik ritual yang mengandung kearifan lokal mengenai keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Selain mengkaji makna simbolik ritual, penelitian ini juga mengangkat pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pelestarian pengetahuan lokal dan kearifan ekologis. Dokumentasi ritual, simbol budaya, serta praktik pengetahuan masyarakat dapat dikembangkan melalui pendekatan digital seperti dokumentasi audiovisual, pengembangan basis data budaya, serta platform digital untuk pelestarian pengetahuan tradisional.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan kearifan ekologis tradisional dengan perkembangan teknologi modern, sehingga nilai-nilai keberlanjutan yang hidup dalam praktik keagamaan masyarakat dapat terdokumentasi dengan baik dan berkontribusi dalam diskursus global mengenai hubungan antara agama, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Melalui keikutsertaan dalam program ini, diharapkan terbuka peluang untuk pengembangan joint research, joint publication, serta penguatan kerja sama akademik antara IAHN Tampung Penyang Palangka Raya dengan berbagai perguruan tinggi di tingkat internasional.//eka//

