Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju

SEMINAR NASIONAL INSTITUT AGAMA HINDU NEGERI TAMPUNG PENYANG PALANGKA RAYA

IAHN-TPnews,- Seminar Nasional  Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya dengan Tema “Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju” digelar di Gedung Studen Center Lantai 3, Rabu (25/9).

Lilik, S.Ag., M.Pd.H Ketua Panitia Seminar Nasional melaporkan bahwa peserta berjumlah 250 orang, terdiri dari unsur Dosen, Mahasiswa IAHN TP Palangka Raya, dari PTKN/PTKS Hindu serta undangan lainnya. Dengan menghadirkan empat Narasumber yakni:
1. Prof. Dr. Masykuri Abdillah, MA dengan judul Moderasi Beragama Untuk Indonesia Yang Damai (Perspektif Islam);

2. Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS. Dengan Judul Moderasi Beragama (Dalam Perspektif Hindu);

3. Telhalia, M.Th.,D.Th dengan judul Moderasi Beragama untuk Indonesia Maju (Perspektif Agama Kristen)

4. Dr. I Wayan Suasta, S.Ag.,M.Pd.H dengan judul Moderasi Beragama Berwawasan Multikulturalisme (Perspektif Pendidikan Hindu Untuk Indonesia Maju)

Foto Saat Laporan Ketua Panitia

Seminar Nasional dibuka secara Resmi oleh Rektor IAHN TP Palangka Raya, Prof Drs I Ketut Subagiasta M.Si.,D.Phil. Rektor Mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan makna moderasi bagi kampus serta tantangan lebih luas diluar kampus sehingga bisa memaknai moderasi.

“Moderasi dapat memberikan makna bagaimana kita harus hidup damai, dan saling menghargai serta berdampingan dan bertoleransi kepada sesama”, ungkapnya.

Foto Pada Saat Seminar Nasional IAHN TP Palangka Raya

Dalam paparan materi oleh Masykuri Abdillah, Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah mengatakan bahwa moderasi Islam mengandung pengertian adanya fleksibiltas dalam pemahaman Islam serta dukungan kepada kehidupan yang damai, harmonis dan toleran, termasuk pengakuan terhadap hak-hak minoritas. Faham moderasi Islam ini sekarang menjadi konsep yang menarik di dunia Islam sebagai upaya untuk menanggulangi radikalisme dan ekstrimisme di banyak negara Muslim, yang telah menghancurkan sendi-sendi agama dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Islam moderat ini sudah dipraktikkan di Indonesia, sebagaimana dapat dilihat dari tiga perspektif.
Pertama, dalam konteks hubungan antara warga, umat Islam di negara ini sangat toleran terhadap kelompok lain.
Kedua, dalam konteks hubungan antara Islam dan negara, umat Islam akomodatif terhadap ideologi negara dan sistem demokrasi.
Ketiga, dalam konteks kehidupan dan perkembangan dunia, umat Islam cukup akomodatif terhadap tradisi lokal dan dapat menerima modernisme meski tetap memiliki orientasi keagamaan.

Pemahaman semacam ini akan mewujudkan missi Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan li al-‘âlimîn), sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Anbiya’: 107. Oleh karena itu, saya cenderung untuk memberikan karakter Islam dengan istilah “Islam Rahmah-Wasathiyyah”.

IB Yudha Triguna (UNHI Denpasar) dalam Paparan materinya mengatakan bahwa Moderasi beragama mencakup doktrin teologis, ajaran moral, dan ritual atau peribadatan yang mengutamakan pemahaman dan penghayatan inklusif, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal bahwa moderasi harus mampu menyediakan ruang interpretasi terhadap kompleksitas ajaran agama dengan mengafirmasi perbedaan dalam penghayatan dan praktik keagamaan kontekstual. Sebaliknya, juga secara eksternal moderasi harus menyediakan ruang dialogis yang meniscayakan terjadinya kesalingpahaman antarumat beragama terhadap keragaman keyakinan dan sistem nilai yang dianut oleh setiap agama. Selanjutnya, moderasi beragama harus mampu menawarkan prinsip-prinsip universal yang dapat diterima seluruh agama sehingga dapat dijadikan spirit untuk mempererat kohesi sosial sehingga berbagai kerjasama dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Spirit moderasi Hindu yang paling mampu mewadahi semua pemikiran, pemahaman, dan pengamalan keagamaan dengan berbagai kualitas manusia dapat ditemukan dalam ajaran Catur Marga atau ‘empat jalan utama’, yaitu karma (‘tindakan’), bhakti (‘pemujaan’), jnana ‘pengetahuan’), dan raja marga (‘spiritualitas’). Keempat jalan ini tidak saja mengakomodasi perbedaan umat Hindu dalam pemikiran dan praktik keagamaan, tetapi juga mengisyaratkan makna universal dalam konteks perbedaan agama-agama. Ajaran ini tertuang dalam Bhagavadgita IV.11.
Moderasi beragama sebagai upaya mengurangi ekskalasi ketegangan hubungan antarumat beragama melalui pemahaman agama yang inklusif dan toleran perlu didukung oleh seluruh umat beragama. Doktrin teologis, moral, dan ritual Hindu menunjukkan fleksibilitas yang cukup tinggi sehingga terbuka untuk melakukan reinterpretasi secara terus menerus sesuai dengan konteks ruang, waktu, dan kondisi zaman. Catur marga sebagai spirit moderasi Hindu menyediakan ruang dialogis bagi aneka kepercayaan dan praktik beragama, baik intern umat beragama maupun terhadap agama lain. Relasi agama dan nasionalisme juga bukanlah persoalan serius dalam Hindu karena kewajiban untuk mematuhi pemerintahan yang sah merupakan perintah agama dalam bingkai ajaran dharma agama, dharma negara, dan catur guru. Dengan kata lain, Hindu telah memenuhi semua syarat menjadi agama moderat, walaupun faktor-faktor di luar agama dapat mengubah konstelasinya sehingga spirit ini harus diperbarui secara konstruktif.

Telhalia (Ketua STAKN Palangka Raya) dalam paparan materinya mengatakan bahwa Moderasi beragama untuk Indonesia maju dalam persefektif kekristenan nampak dalam cara Yesus yang datang dan menjumpai manusia tanpa memandang bulu.

Moderasi beragama untuk Indonesia maju dalam kekristenan adalah sikap yang berlawanan dari radikalisme/ekstrim. Moderasi yang mendepankan harkat dan martabat manusia, nilai perdamaian nampak jelas dalam ajaran belas kasih terhadap sesama, dan hidup rukun yang berakibat pada berkat yang akan dicurahkan. Belas kasih dan hidup rukun adalah gambaran nyata dari perwujudan Kerajaan Sorga di bumi khususnya bumi Pertiwi NKRI. Sebab bagaimana kita mengharapkan yang tidak kelihatan akan terjadi, sementara yang kelihatan/nyata diabaikan. Jadi dalam hal ini moderasi beragama, dalam kekristenan adalah upaya mengutamakan sisi kemanusian/nilai kemanusian. Sehingga agama bukan menjadi senjata untuk saling serang atau membunuh namun kekuatan yang menghidupkan dan kesejahteraan di bumi.

Dalam Paparan Materi I Wayan Suasta (Dosen IAHN TP Palangka Raya) Mengatakan bahwa Moderasi beragama yang berwawasan multikulturalisme dalam perspektif pendidikan Hindu sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Dalam pustaka suci Hindu sebagai sumber pengetahuan moderasi beragama yang berwawasan multikulturalisme sudah diisyaratkan sejak awal, sejak weda diwahyukan. Karena dalam pustaka suci Hindu hampir tidak ditemukan kata-kata yang mengandung kebencian dan kemarahan. Pustaka suci Hindu bebas dari katakata kebencian dan kemarahan, karena para Maharsi yang menerima ajaran-ajaran itu dalam meditasi mereka sebagai orang-orang yang telah bebas dari kepentingan duniawi, mereka paham sebagai Sang diri dari semua makhluk. Karena mereka disebut para jivan-mukta yang telah mencapai pembebasan dari ikatan duniawi ketika mereka masih hidup di dunia.
Atas dasar itu dalam pustaka suci Hindu (Weda), telah disampaikan “Aku bawa padamu kerukunan dan kebulatan suara. Kasihi satu sama lain, seperti sapi mencintai anaknya yang baru lahir. Weda memerintahkan manusia untuk saling mencintai satu sama lain. Engkau mencintai kami dengan penuh kasih maka kami mencintai-Mu dengan penuh kasih (Rg.3.129). Selain itu, weda juga meminta manusia untuk memandang semua makhluk sebagai teman atau sahabt, “Semoga aku melihat seluruh makhluk dengan mata seorang teman/sahabat, kita sesungguhnya memandang satu sama lain adalah sama” (Y.36.31). Dengan demikian maka mansuia dapat hidup berdampingan secara damai, tampa seling membenci satu sama lain. menjadi satu pemikiran kebulatan tekat untuk saling menghargai dan menghormati. “Satukan pikiranmu semua sehingga semua mahluk dapat hidup bersama dengan bahagia” (A.6.28).
Sebagai umat beragama, sudah saatnya untuk bersama-sama membangkitkan semangat persaudaraan untuk membangun visi kerukunan dalam masyarakat dengan meninggalkan paham radikalisme dan ektremisme yang negative dalam berkeyakinan.

Kegiatan Seminar Nasional berjalan dengan tertib dan lancar di pandu oleh moderator Dr. I Wayan Salendra, S.Ag.,M.Si. //sar//